SANAD

SANAD
SANAD SILSILAH KEILMUAN DAN PARA SESEPUH/GURU BESAR ALHIKMAH
BISMILLAHIRROHMANIRROHIM- Selamat bergabung di Perguruan Seni Jagadiri (Beladiri) Alhikmah-Markas Besar Aceh - Gali Hikmah Menuai Pahala

Senin, 16 Juli 2012

ALHIKMAH DALAM BERITA





SELAYANG PANDANG PERGURUAN ALHIKMAH - ACEH
ALHIKMAH,
SENI BELADIRI WARISAN PARA WALI

SEJARAH BERDIRINYA PERGURUAN ALHIKMAH

Ilmu Al-Hikmah pada hakikatnya merupakan keilmuan warisan Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali RA dan juga para Sahabat yang kemudian disebarluaskan oleh para Wali Allah di belahan bumi ini, termasuk Walisongo dan Syech Abdurrauf As Singkly di Aceh.

Sebelum bernama “Al-Hikmah” , seni beladiri Islam ini dipelajari oleh Abah KH.M. Thoha (seorang Polisi zaman Belanda) yang juga merupakan sesepuh Perguruan Sin Lam Ba. Kemudian dari Abah Toha dipelajari oleh KH. M. Syaki Abdul Syukur sebagai seorang santri dan jawara Banten.

Ilmu Beladiri Alhikmah  yang lebih dikenal dengan “Seni Jaga Diri Alhikmah”  ini berkembang pesat dan diperkenalkan oleh Abah KH. M.Syaki Abdul Syukur bin Sartawi setelah sebelumnya melengkapi keilmuannya dengan belajar Tauhid kepada Abah KH. M.Amilin bin H. Sarbini (Mama Amilin Abdul Jabbar), Guru Spiritual Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan RI, pencetus nama “burung Garuda” pada Lambang Negara  Republik Indonesia tersebut.

Perguruan Alhikmah berpusat di Pondok Pesantren Hikmatul Iman, Cisoka, Tangerang Banten.

SEJARAH BERDIRINYA PERGURUAN ALHIKMAH – ACEH

Seni Jaga Diri ALHIKMAH di Aceh diperkenalkan sejak  awal Februari 2007 lalu oleh Tuan Guru Fikri Al Muslim (Kiam Radja Muda),  seorang Praktisi Tenaga Dalam dan Konsultan Spiritual dari Djagad Besemah Libagh – Semende Panjang, suatu kesatuan budaya dan nama suku besar di Sumatera Selatan yang memiliki hubungan sejarah dengan tanah Banten. Berdasarkan silsilahnya, Pembina Alhikmah-Aceh pertama ini masih bernasabkan Syech Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Djati), salah seorang Wali Sembilan (Walisongo) yang memiliki sejarah historis dengan Kerajaan Samudera Pasai, Aceh.

Tuan Guru Fikri Al Muslim yang memiliki nama lengkap Kang Fekri Juliansyah dan bergelar Kiam Radja Muda ini adalah murid dari Raden Ahmad Hermana, Pendiri Yayasan Perguruan Insan Alhikmah Kota Pagaralam Sumatera Selatan. Raden Ahmad Hermana merupakan salah seorang murid langsung dari Abah KH.M.Syaki Abdussyukur, Guru Besar Alhikmah. Tuan Guru Fikri Al Muslim menimba ilmu Alhikmah pada Raden Ahmad Hermana pada tanggal 22 September 1994 atau 18 tahun sebelum ia resmi menjadi Guru (Pembina) Alhikmah Aceh.

Sebenarnya. Niat untuk membuka Perguruan Alhikmah di Aceh sudah cukup lama. Maraknya kriminalitas menjelang Pemilukada Aceh di antaranya kasus penembakan yang tejadi di akhir tahun 2011 menggugah sosok yang akrab disapa dengan "Tuan Guru" ini untuk merekrut anggota (ikhwan) melalui Pelatihan dan Bimbingan Beladiri Islam.

Beberapa ikhwan yang sudah lama menjadi ikhwan di Padepokan yang ia pimpin yakni Padepokan Bumi Serunting Sakti dikumpulkan seperti Bpk. Abdul Salam,  Bpk. M Nasir Ab (Ahmad) dan Bpk. Jasman. Beberapa rekan lain pun dihubungi untuk mengadakan kegiatan zikir bersama dengan nama Majelis Dzikir Alhikmah-Aceh. Awalnya, kegiatan zikir dan latihan dilakukan di rumah kediaman Tuan Guru di bilangan Lamjamee, Banda Aceh kemudian berpindah ke Masjid Baiturrahim Ulee-Lheue. Di Masjid Baiturrahim ini muncul petunjuk untuk mengadakan rutinitas zikir bersama di Komplek Makam Syiah Kuala, Lamdingin Banda Aceh.

Satu persatu ikhwan bergabung dengan Majelis Zikir Alhikmah dan ba’da zikir bersama dilanjutkan latihan beladiri tenaga dalam bersama di Pantai dekat komplek Makam Syiah Kuala.

Untuk mewujudkan niat mengembangkan Ilmu Alhikmah di Aceh, tepat pada malam Jumat, tanggal 12 April 2012 Tuan Guru Fikri Al Muslim menghadap langsung KH.Iskandar HIS, Sang Guru Besar Alhikmah di Pasanggarahan Alhikmah, Cisoka, Tangerang Banten. Atas Restu dari Sang Guru Besar, maka pada tanggal 28 April 2012 bersamaan dengan peringatan Maulid akhir di Komplek Makam Syiah Kuala, diadakan syukuran  atas berdirinya Perguruan Alhikmah Aceh.  menjelang Milad ke-2 (2014)  dinyatakan bahwa tanggal 12 April adalah HARI LAHIRNYA PERGURUAN AL HIKMAH ACEH..
Saat ini Perguruan Alhikmah Aceh memiliki murid (ikhwan) sekitar 750 orang  dari berbagai lapisan. Sebagian besarnya berdomisili di Kota Banda Aceh.Saat ini, murid Perguruan Al Hikmah Aceh juga berkembang dan tersebar di beberapa kota di Indonesia dan luar negeri.




Foto bersama Abah KH. Iskandar HMS (Guru Besar Al Hikmah) seusai pengajian bulanan 6 April 2014 di Cisoka -Banten menjelang Milad ke-2 Perguruan Al Hikmah Aceh. Dari kiri - Kanan : Rachmat Eka Syahputra (AH-9779 Perwakilan Jakarta) lahir tanggal 12 April 1985, Tuan Guru Fikri Al Muslim (Pendiri Perguruan Al Hikmah Aceh dan Formulator AH-9779), Ki Sholeh Al Hikmah (Ka.Kesekretariatan Perguruan Al Hikmah Aceh/AH-9779) lahir tanggal 12 April 1975




Selain bertujuan mendidik jiwa tauhid khususnya bagi generasi muda, Perguruan Al Hikmah Aceh bertekad membantu tugas Kepolisian dalam memerangi kejahatan dan memberantas terorisme. Sesuai dengan kekhususan Aceh, perguruan Al Hikmah Aceh juga mendukung penerapan Syariat Islam di Aceh. 
  Berdasarkan Anggaran Dasar Perguruan Alhikmah Aceh Pasal 5 dalam mewujudkan visi dan misi tersebut memiliki usaha:

a       Mengadakan majelis zikir/majelis taklim
b       Mengadakan pelatihan seni beladiri dan tenaga dalam Islam (moslem martial  
          art)
          Mengadakan pelatihan pengobatan Islami bagi para anggota (ikhwan)
d        Mengadakan pembinaan mental spiritual
e        Menyediakan Jasa Konsultasi Spiritual dan pengobatan alternatif
f        Menyediakan usaha lain yang berkaitan dengan eksistensi Perguruan Alhikmah-  
         Aceh

Untuk menjalin silaturrahim sesama ikhwan Alhikmah di Aceh, Perguruan ini menyelenggarakan kegiatan rutin majelis taklim dengan agenda tahlil, zikir dan wirid bersama setiap malam Jumat di Komplek Makam Syiah Kuala dan latihan setiap malam Minggu pukul 22.30 di Lapangan Blang Padang Banda Aceh.

ALHIKMAH 9779
Ada ciri khas menarik di Perguruan Alhikmah Aceh, dalam melatih para ikhwannya, Tuan Guru Fikri Al Muslim memformula dengan beragam metode pelatihan yang intinya memberi motivasi bagi para ikhwannya agar lebih memperdalam ilmu Alhikmah tanpa terpengaruh dengan 'show force" yang dipertunjukkan di berbagai perguruan tenaga dalam lainnya. "Memang Alhikmah, bukan tenaga dalam. Tetapi dalam latihan atau atraksi yang diperlihatkan adalah tenaga dalam yang merupakan nol koma sekian persen dari materi (content) Ilmu Alhikmah". Ilmu Alhikmah 99,99 persen lebih kepada pendalaman spiritual, karena ilmu Alhikmah sendiri merupakan Sirrullah (rahasia Allah) dan tergolong ilmu mau'nah (pertolongan ALLAH).
Maksud kode 9779 menjadi misi melahirkan (target) 9779 ikhwan di berbagai daerah dan negara. Untuk itu diperlukan waktu sekira 9 Tahun dengan 7 Pembina (Guru) awal di bawah naungan Perguruan Alhikmah Aceh (karena Aceh memiliki kekhususan baik dari sisi aturan/qanun dan hukum yang berlaku maupun dari sisi historis penyebaran Islam di Nusantara). Memiliki 79 Cabang/Perwakilan selanjutnya memiliki 79 Perawat untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar di Bumi ALLAH tercinta ini. 
Secara Spiritual angka 9 (Sembilan) berarti angka tertinggi (maqom) dan sebagai simbol penyebaran Islam di Nusantara yang dibawa oleh Sembilan Wali (Walisongo). Angka 7 (Tujuh) bermakna Penciptaan Langit dan Bumi dengan 7 Lapis (tingkatan). Angka 7 dan 9 dalam mitologi budaya Djagad Besemah Libagh-Semende Panjang (asal daerah Tuan Guru Fikri Al Muslim) bermakna "7 (tujuh) Ganti 9 (Sembilan) Gilir", sebuah falsafah dalam melahirkan pemimpin-pemimpin yang amanah dan mengedepankan nilai ketauhidan. 

Angka 9779 dibaca dari sisi manapun tetap tak berubah, ini bermakna istiqomah. Angka 9 di awal dan 9 di akhir bermakna, Awwalu wa Akhiru.

Angka 9779 dibangun oleh 4 (empat) angka . Ini senarai dengan hakikat Islam yang Harus dibangun melalui 4 pilar : 
Syareat, Tareqat, Hakikat dan Makrifat 

Karena itulah setiap "Pembina" atau "Guru" Alhikmah hendaklah (wajib) memahami dan ke-4 unsur tadi agar di dalam mensyiarkan agama ALLAH melalui Alhikmah tidak setengah-setengah, tidak sempit pengetahuan dan intinya menjadi pribadi yang arif dan bijaksana.
Dalam pengembangan latihan, angka 9779 menunjuk pada 9 keilmuan : Agama (usul, fiqih, tasawwuf), metafisika, fisika, kimia, matematika, psikologi dan biologi  yang diformula untuk lebih mengenal Ilmu Alhikmah.

Ini sesuai dengan pengertian dari Ilmu Alhikmah:


Kata ALHIKMAH berasal dari kata HAKAMA-YAHKUMU-HIKMATAN. 
ALHIKMAH artinya Ilmu pengetahuan, kebenaran, keadilan, kebijaksanaan, filsafat, perkataan yang sesuai, benar dan penuh kebaikan.
Jadi Ilmu Ahikmah adalah ilmu yang hak, benar, yang diambil dari hikmah Asma Allah, hikmah ayat-ayat Al-quran dan doa-doa yang mustajab untuk mencapai keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan zhohir dan batin dunia akhirat dengan cara mendekatkan diri kepada ALLAH SWT (Taqorrub Ilallah)
Pada Hakikatnya, Ilmu Alhikmah adalah: Sirrullah (Rahasia ALLAH)
ILMU ALHIKMAH tergolong ILMU MA’UNAH (hanya diberikan ALLAH SWT kepada para hamba yang taat menjalankan perintah ALLAH SWT dan menjauhi larangan_NYA. 
Bila dijumlahkan, 9 + 7 + 7 + 9 = 32  maka 3 + 2 = 5 (Rukun Islam)
Alhikmah  itu maknanya menjalankan Islam 
ISLAM = Selamat (Dunia wal Akhirat)..

Insya Allah..Aamiin





PERGURUAN SENI JAGADIRI (BELADIRI) ALHIKMAH - ACEH
PIMPINAN: KIAM RADJA MUDA (UST.FIKRI AL MUSLIM)















Title: ALHIKMAH TIDAK UNTUK TAKABUR
Orang bermaksud jahat saja jatuh ditoel !
(Buana Minggu, 22 Februari 1983)


MENYIBAK KEKUATAN ILMU ALHIKMAH

Salah satu keampuhan ilmu ini, 
orang jahat atau yang bermaksud jahat,
 jika ditoel (colek) saja bisa jatuh.


SUATU ketika, seorang saudagar cengkeh yang sangat kaya tertimpa musibah. Seluruh hasil penjualan cengkehnya dirampok. Setelah kejadian tersebut, datanglah seorang lelaki yang membantu untuk menangkap perampok tersebut. Melalui ilmu yang dimilikinya, dalam waktu tidak terlalu lama, para kawanan perampok itu dengan cepat dapat diringkusnya.
Tertarik dengan kepandaian yang dimiliki sang penolong, akhirnya bergurulah saudagar tersebut. Sang penolong itu tidak lain adalah KH M. Syaki Abdusyukur, guru besar Ilmu Al-Hikmah dari Desa Cisoka, Tigaraksa, Tangerang.
Cerita serupa juga pernah dialami oleh Wirta, salah seorang pengamal ilmu ini. Suatu hari, dia didatangi seorang tamu yang tak dikenal. Sebagaimana biasanya masyarakat Indonesia, jika ada tamu maka berjabat tangan adalah hal yang lazim. Tetapi, ada keanehan yang justru terjadi. Ketika dia menjabat tangan tamunya itu, sang tamu malah jatuh tersungkur di hadapannya. Dia sempat terbengong-bengong dengan peristiwa itu.
Akhirnya dia paham, kalau ternyata sang tamu itu mungkin telah berniat jahat terhadap dirinya. Hal ini diketahuinya dari tubuh sang tamu yang membawa sebilah golok yang diselipkan di dalam bajunya.
“Alhamdulillah. Pertolongan Allah telah datang tanpa sepengetahuan kita,” ungkap Wirta.
Ikhwan (sebutan bagi pengamal ilmu Al-Hikmah) lainnya, Hermawan, juga punya cerita menarik. Hari itu, dia tengah berhadapan dengan tiga orang begundal bersenjata tajam. Merasa keadaan tidak menguntungkan, maka dia pun Cuma bisa pasrah. Dalam hatinya, apapun yang akan terjadi dia serahkan kepada Yang Kuasa saja.
Tiba-tiba, salah satu dari kawanan preman itu hendak menghunjamkan sebilah belati ke arah tubuh Hermawan. Namun, peristiwa aneh itu pun terjadi. Pisau yang hendak ditusukkan ke perutnya itu tidak dapat menyentuh kulit Hermawan. Beberapa saat lamanya tangan si preman seolah tak dapat menekan senjatanya. Diam terkaku.
“Melihat kejadian itu, ketiga orang itu lari tunggang-langgang,” kata Hermawan yang tak henti-hentinya mengucap syukur dan kagum dengan ilmu yang dimilikinya itu.
Itulah antara lain kehebatan Ilmu Al-Hikmah yang sampai saat ini masih terus berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia bahkan hingga ke luar negeri seperti Singapura dan Malaysia.


Dari Seorang Polisi Bernama M Thoha

Menurut berbagai catatan, KH M Syaki belajar ilmu itu pertama kali kepada seorang polisi bernama Mohammad Thoha pada tahun 1939. Saat itu para pemuda memang tengah giat-giatnya belajar bela diri seperti silat, kung fu, tenaga dalam dan sebagainya untuk melindungi diri dan keluarga dari kondisi yang masih genting terutama untuk melawan penjajah.

Sebenarnya, pada awalnya ilmu itu belum ada nama seperti dikenal saat ini. Setelah Abah Syaki, begitu ia kerap disapa, menguasai ilmu itu dan bisa menurunkan kepada siapa saja, maka ia menamainya dengan sebutan Ilmu Al-Hikmah. Dalam kurun waktu beberapa tahun, Abah Syaki pun mengembangkan ilmu tersebut di daerah Tangerang dan sekitarnya. Hingga akhirnya Ilmu Al-Hikmah ini memasuki daerah Jakarta pada 1950 yang dikembangkan melalui Yayasan Al-Hikmah yang diketuai oleh AS Chanafie dan selanjutnya berkantor pusat di Jakarta.

Sebagaimana dilansir Buana Minggu (22 Februari 1981), Abah Syaki menuturkan bahwa Ilmu Al-Hikmah ini lebih cenderung sebagai ilmu bela diri bertahan. Sedangkan ilmu lainnya lebih banyak menyerang atau sama sekali tidak dicampur-adukkan dengan ilmu-ilmu lainnya.

“Kalau, toh, ada yang memakai ilmu semacam Al-Hikmah ini dan telah dicampur-adukkan dengan ilmu lainnya, maka itu di luar tanggung jawab Yayasan Al-Hikmah,” kata Abah Syaki.



Menggunakan Otot-otot Perut

Kekuatan Ilmu Al-Hikmah ini berasal dari Asma Allah dan do’a-do’a yang diwiridkan setiap sehabis sholat lima waktu. Selain itu, cara pengolahan atau membangkitkan keampuhannya cukup menggunakan otot-otot perut dibarengi dengan rasa pasrah diri kepada ALLAH SWT.

“Dalam beladiri ini tidak memerlukan bentrokan fisik, tetapi cukup menggunakan otot-otot perut yang dikencangkan (di-press) sewaktu berhadapan dengan musuh. Insya Allah mereka yang akan berbuat jahat terpental,” kata Ajibakar Yunus, salah seorang guru Ilmu Al-Hikmah yang berdomisili di Curup, Rejang Lebong, Bengkulu.

Ajibakar menambahkan, masih banyak lagi manfaat belajar Ilmu Al-Hikmah. Selain untuk perlindungan diri secara fisik, ilmu ini juga melindungi kita dari serangan sihir, hipnotis bahkan racun.

“Seandainya kita disuguhi minuman atau makanan beracun, maka ketika kita akan menyentuh piring atau gelas tersebut, maka wadah itu akan pecah seketika,” kata lelaki berdarah Lintang Empat Lawang yang berprofesi sebagai pengacara itu.(Dikutip dari Buana Minggu)

Title: HAJI MACHFUZ, TUNANETRA BISA "MELIHAT"
APA YANG DIKEHENDAKI
Pintar buat bangunan dan pernah mengajar ALHIKMAH tentara Arab
(Buana Minggu, 7 Maret 1982)

Title: ILMU ALHIKMAH bukan untuk sembarangan !
(Buana Minggu, 15 Februari 1981)


Title: Ilmu Tenaga Dalam "HIKMAH"
berkembang sampai Malaysia
(Buana Minggu, 21 Maret 1976)


Title: 
ALHIKMAH MEMBINA MORAL GENERASI MUDA
(Harian Terbit, 20 Juni 1980)





The Power of Al Hikmah 


ALHIKMAH  DAN MUSLIMAH


Bagi Akhwat (muslimah), Insya Allah ilmu ALHIKMAH sebagai proteksi  dari upaya pemerkosaan, pembunuhan, pencopetan,perampokan dan berbagai kriminalitas lainnya..
SEMUA ATAS IZIN ALLAH SWT





INSYA ALLAH ALHIKMAH DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MENARIK PENCURI (COPET), MALING, DSB




BEBERAPA VIDEO LATIHAN
PERGURUAN ALHIKMAH








Alhikmah - Jakarta 






Ikhwan Al Hikmah Aceh di Zawiyah 'Arafatul Arsy 
(Tareqat Naqsabandiyah)




Alhikmah Aceh



MENGENAL SOSOK WALIYULLAH DI ACEH





Syekh Abdul Rauf Al-Singkili, Harmonisasi Syariat dan Tasawuf 

Nama Syekh Abdur Rauf Al-Fansuri As-Singkili yang memiliki nama panjang Syekh Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Al-Fansuri Al-Singkili dilahirkan di Fansur dan dibesarkan di Singkil, Aceh, pada awal abad ke-17 Masehi
Ulama besar asal Aceh ini sangat terkenal dengan pemikirannya. Sejak kecil ia sudah mempelajari ilmu-ilmu zahir seperti tata bahasa Arab, membaca Alquran dan tafsir, hadis dan fikih, mantiq (logik), filsafat, geografi, ilmu falak, ilmu tauhid, sejarah dan pengobatan.
Ia pun sempat mendalami ilmu-ilmu batin seperti ilmu tasawwuf dan tarekat. Dalam laman www.ddii.acehprov.go.id disebutkan, Abdul Rauf lalu menjadi ahli (pakar) dalam ilmu-ilmu tersebut.
Di bidang keagamaan Abdul Rauf pertama kali belajar pada ayahnya, Syehk Ali Fansuri yang bersaudara dengan Syekh Hamzah Fansuri. Menginjak remaja Abdul Rauf menimba ilmu di Timur Tengah.
Berawal dari melaksanaan ibadah haji, ia lalu menetap selama 19 tahun di Timur Tengah. Nenek moyang Al-Singkili dipercaya berasal dari Persia (Iran) dan datang ke  Kesultanan Samudera Pasai pada akhir abad ke-13. Mereka kemudian menetap di Fansur (Barus), kota pelabuhan yang penting di pantai Sumatera Barat.
Tidak hanya di Makkah, ia juga mempelajari ilmu agama dan tasawuf di Kota Madinah, di bawah bimbingan guru-guru terkenal. Di Madinah ini pula Abdul Rauf berkesempatan berguru pada khalifah (pengganti) dari tarekat Syattariyah bernama Ahmad Kusyasyi dan juga Maula Ibrahim.
Hal ini terungkap dalam kata penutup salah satu karya tasawuf yang menyebutkan guru dan tradisi pengajaran yang diterimanya. Karya tasawufnya ini juga menjadi model pewarisan sufisme di dunia sufi Melayu.
Dalam laman www.melayuonline.com disebutkan bahwa Abdul Rauf juga berguru di beberapa kota di Timur Tengah meliputi kota-kota di Yaman, Doha di Qatar hingga Kota Lohor di India. Disebutkan pula, Abdur Rauf mengamalkan 11 tarekat, di antaranya Syattariyah, Kadiriyah, Kubrawiyah, Suhrawardiyah, dan Naqsyabandiyah.
Ajaran tasawuf pada banyak karya Abdul Rauf menekankan transendensi Tuhan di atas makhluk ciptaan-Nya. Di mana ia menolak pandangan wujudiyyah, yang menekankan imanensi Tuhan dalam makhluk ciptaan-Nya.
Dalam karyanya yang berjudul Kifayat Al-Muhtajin, ia berpendapat bahwa Tuhan menciptakan alam semesta. Makhluk ciptaan-Nya sebagai wujud yang mutlak tetap berbeda dari Tuhan. "Diumpamakan dengan tangan dan bayangan, walau tangan sulit dipisahkan dengan bayangan, bayangan bukan tangan yang sebenarnya," jelas dia.
Secara umum dan mudah dipahami bahwa Abdul Rauf ingin mengajarkan tentang harmoni antara syariat dan sufisme. Keduanya harus bekerja sama. Hanya melalui kepatuhan pada syariat maka seorang yang berada di jalan sufi bisa menemukan hakikat kehidupannya.
Pandangan ini berseberangan dengan pendekatan Nuruddin Al-Raniri. Namun, ia cenderung memilih jalan damai dan sejuk untuk berinteraksi dengan aliran wujudiyyah. Ia tak secara terbuka menyatakan menentang pandangan-pandangan lain. Jalan damai ini lantas mengurangi pertentangan dalam Islam akibat tafsir yang kurang tepat.
Sejalan dengan kepatuhan total pada syariat, Abdul Rauf berpendapat bahwa dzikir penting bagi orang yang menempuh jalan tasawuf, seperti terkandung dalam karyanya bertajuk Umdat Al-Muhtajin ila Suluk Maslak Al-Mufradin, di mana dasar dari tasawuf adalah dzikir yang berfungsi mendisiplinkan kerohanian Islam.
Dalam berdzikir ada dua metode yang diajarkannya, yaitu dzikir keras dan dzikir pelan. Dzikir keras seperti pengucapan "La ilaha illa Allah" sebagai penegasan akan keesaan Sang Pencipta. Dzikir menurut dia bukanlah membayangkan kehadiran gambar Tuhan melainkan melatih untuk memusatkan diri.
Di samping itu, Abdul Rauf berpandangan bahwa tauhid menjadi pusat dari ajaran tasawuf. Pandangan-pandangan dasar Abdul Rauf tentang tasawuf ini tertera dalam kitab Tanbih Al-Masyi. La ilaha illa Allah menurut dia, memiliki empat tingkatan tauhid: penegasan, pengesahan ketuhanan Allah, mengesahkan sifat Allah dan mengesahkan dzat Tuhan.
Abdul Rauf sebelumnya sudah mendapatkan ajaran tentang ilmu tasawuf tentang tarekat Syattariyyah dan tarekat Qadiriyyah. Sampai akhirnya ia diberi ijazah dalam dua tarekat tersebut. Karena itu, ia mendapat gelaran "Syekh" yang artinya pemimpin tarekat. Dalam mempelajari tarekat ini Abdul Rauf juga belajar kepada dua orang guru India yang berada di Tanah Arab; Syekh Badruddin Lahori dan Syekh Abdullah Lahori.
Di bidang syariat, Abdul Rauf menyusun sebuah kitab yang lengkap membahas perkara syariat.
Hasil pemikirannya tentang hal-hal yang terkait permasalahan kehidupan sehari-hari terangkum dalam kitab berbahasa melayu dengan judul Mirat Al-Turab fi Tashil Ma‘rifah Al-Ahkam Al-Syar'iyyah li Al-Malik Al-Wahab (Cermin Para Penuntut Ilmu untuk Memudahkan Tahu Hukum-hukum Syara' dari Tuhan).
Dengan segala pengetahuan dan pemahamannya, Abdul memilih tak membahas tentang tata cara ibadah, melainkan menuliskan pandangannya terhadap hukum atau tata cara yang aplikatif dalam menjalani kehidupan sehari-hari berdasarkan Alquran.
Dalam kitab Mirat Al-Turab dibahas tiga hal utama, yaitu hukum perdagangan dan undang-undang sipil atau kewarganegaraan, hukum perkawinan, dan hukum tentang jinayat atau kejahatan.
Hukum perdagangan dan UU sipil mencakup urusan jual beli, hukum riba, kemitraan dalam berdagang, perdagangan buah-buahan, sayuran, utang-piutang, hak milik atau harta anak kecil, sewa menyewa, wakaf, hukum barang hilang dan lainnya.
Di bidang hukum perkawinan dibahas tentang nikah, wali, upacara perkawinan, hukum talak, rujuk, fasah dan nafkah. Sedang hukum jinayat membahas tentang hukuman pemberontakan, perampokan, pencurian, perbuatan zina dan hukum membunuh.
Dalam bidang tafsir Abdul Rauf menghasilkan karya berjudul Tarjuman Al-Mustafid. Sebuah karya terjemahan Alquran dalam bahasa Melayu dari kitab tafsir yang lain, atau disebut Tafsir Al-Jalalain.
Sampai akhir hayatnya, ia belum sempat menyelesaikan tafsir ini sehingga karya ini lalu diselesaikan oleh muridnya, Daud Rumi, dan beberapa pengarang lainnya.
Merintis tafsir Alquran dalam bahasa Melayu
Seperti tertulis dalam laman www.psq.or.id, disebutkan bahwa hampir semua pengkaji sejarah Alquran dan tafsir di Indonesia sepakat menjadikan Abdul Rauf Al-Singkili sebagai perintis pertama tafsir di Indonesia, bahkan di dunia Melayu.
Tafsir yang bernama Tarjuman Al-Mustafid ini sangat diterima dan mendapat tempat di kalangan umat Muslim. Tidak hanya di Indonesia, tafsir ini pernah diterbitkan di Singapura, Penang, Bombay, Istanbul, Kairo dan Makkah.
Dua pendapat besar dilontarkan para ahli tentang tafsir ini. Pertama, terjemahan tersebut lebih mirip sebagai terjemahan Tafsir Al-Baidhawi, yang juga mencakup terjemahan Tafsir Jalalain. Dan tafsir tersebut mengambil sumber dari berbagai karya tafsir berbahasa Arab.
Kedua, Tarjuman Al-Mustafid adalah terjemahan Tafsir Jalalain. Dan hanya pada bagian tertentu saja tafsir tersebut memanfaatkan Tafsir Al-Baidhawi dan Tafsir Al-Khazin. Lebih khusus disebutkan karya Syekh Abdul Rauf ini sebagai saduran daripada sebagai terjemahan.
Metodologi tafsir yang digunakan Abdul Rauf dinilai sangat sederhana. Tafsir Al-Jalalain yang dikenal sangat ringkas dan padat di tangan Abdul Rauf diterjemahkan menjadi lebih ringkas. Ia menerjemahkan kata per kata tanpa menambahkan pemahaman-pemahamannya sendiri. Penjelasan yang tidak perlu pada Tafsir Al-Jalalain ditinggalkannya.
Waktu tepat kapan tafsir ini disusun tidak pernah diketahui, karena Abdul Rauf tidak pernah menulis angka tahun. Namun, rintisan tafsir ini diabadikan oleh seluruh pencinta tafsir Alquran di Tanah Melayu, dengan menjadikan Tafsir Jalalain sebagai tafsir standar atau tafsir pemula yang dipelajari di hampir seluruh pesantren di Nusantara./RO
SUMBER : www.ahlulbaitindonesia.org


Meunasah (langgar Pengajian) di Komplek Makam Syiah Kuala (Syech Abdurrrauf As Singkly). Lokasi Pengajian rutin dan zikiran bagi ikhwan Perguruan Al Hikmah Aceh setiap malam Jumat

 Para Ikhwan Perguruan Alhikmah - Aceh di Komplek Makam Syech Abdurrauf As Singkly (Syiah Kuala) , 
Jumat Dinihari, 25 Januari 2013

4 komentar:

  1. Assalamu`alaikum ALHIKMAH ACEH salam perkenalan, saya suka dengan blog anda, banyak yang dapat di ambil mamfaat. terima kasih

    BalasHapus
  2. gimana cara belajar ilmu al hikmah

    BalasHapus
  3. asslam,, kmi pernah mengisi batin, dan amalan ayat dan larangan ny sama, cara2 tehknik perut, cincin,sabuk rompi,saputngan ad jga,,, di kenalkan, apakah kmi ini salh satu angggota ikhwan al hikmah...???

    BalasHapus
  4. Assalamualaikum kpd guru al hikmah dan juga ikhwan2 alhikmah.saya dari malaysia telah mempelajari ilmu ini dari bp.hj imron siin dr cikampek,kerawang ... hajat saya bolehkah saya mohon memiliki buku atau kitab alhikmah utk bacaan dan juga rujukan.jika ada kebenaran mohon email kan kpd saya jika dlm bentuk pdf.alamatnya AYAHDIPAKNGAH@GMAIL.COM

    BalasHapus